4 Prinsip Utama Mengatasi Perundungan di Sekolah

Apa yang luput dari orangtua di masa sekarang adalah pergaulan anak yang lintas batas, anak dapat menjeleajah ke berbagai tempat hanya melalui layar ponselnya. Teknologi membuat segalanya menjadi serba mungkin, bahkan tempat yang dulu jauh dari peradaban, terpencil dan tersisihkan melalui pembangunan teknologi yang signifikan membuat mereka terjangkau dan mereka pun dapat menjangkau dunia.

Dunia maya memberi kebebasan yang begitu luas tanpa pandang bulu. Pergaulan yang luas, dunia yang tanpa batas membuat kontrol semakin sulit, apalagi jika orangtua tidak mampu mengikuti perkembangan jaman, mereka akan kehilangan segalanya, terutama waktu berbagi bersama anak dan keluarga, sehingga membuat orangtua kesulitan untuk mengontrol anak-anaknya dengan baik, apalagi jika dari keluarga yang mencandu internet.

Evolusi teknologi tentu membawa kebaikan namun juga ikut memperbesar beberapa masalah dalam kehidupan keseharian seperti cyberbullying atau perundungan yang merupakan ancaman paling buas bagi kaum muda saat online. Ketika seorang anak diintimidasi di sekolah, biasanya akan berlanjut di jejaring sosial, aplikasi pengiriman pesan dan tempat lain di internet.

Dunia pendidikan juga agak gagap mengikuti perubahan nyata ke maya bahkan seringkali menganggap bahwa isu-isu dunia digital berada di luar ruang lingkup sekolah atau bahwa hal tersebut tidak memerlukan pengawasan. Walhasil, penyalahgunaan dan pelecehan online sering kali memiliki dampak yang lebih besar pada para korban daripada intimidasi pribadi, tapi hal ini kerap kali terabaikan sampai terlambat bagi keluarga maupun institusi pendidikan.

Dampak perundungan

Peran internet bisa membuat segala sesuatu menjadi lebih besar dan berkali lipat. Posting media sosial dapat mencapai ratusan atau bahkan ribuan orang dalam hitungan menit dan sebelum Anda menyadarinya, semua orang itu mungkin berbicara dan mengekspresikan pendapat tentang posting atau gambar. Dampak konten yang kasar pada korban diperbesar ketika ada peningkatan jumlah orang yang melihat, menyukai, berbagi, dan/atau mengomentari kiriman. Memang, jika konten telah menjadi viral, tidak mungkin untuk menghentikan atau menghapusnya, bahkan jika pelaku sudah menyesali tindakan mereka, hal tersebut tidak akan mengubah apa-apa.

Seringkali pengguna jejaring sosial tidak tahu atau menganggap dirinya melakukan perundungan, percakapan terbuka dan begitu banyak opini yang terlontar dari berbagai orang dengan bermacam karakter dan tingkat pendidikan dapat menyudutkan anak apalagi jika mereka masih remaja belia. Intimidasi dari rekan seumur saja bisa membuat mereka menjadi rapuh dan terluka apalagi berhadapan dengan yang berumur lebih dewasa dan berpengalaman. Dalam situasi seperti ini anak-anak lebih rentan dan gampang ditindas.

4 prinsip

Dengan latar belakang permasalahan yang kompleks seperti ini dan sebagai cara untuk mendorong pendekatan proaktif dalam menangani cyberbullying dan jenis pelecehan online lainnya, berikut adalah empat prinsip yang dapat diterapkan setiap sekolah dan guru untuk mengatasinya.

  1. Edukasi siswa menjadi warga digital yang baik.

Karena dunia digital adalah bagian dari kehidupan nyata kita, aturan yang berlaku di internet harus sama dengan yang sudah kita kenal di dunia fisik. Saat mengajar anak-anak tentang rasa hormat dan tenggang rasa, penting untuk memasukkan ranah internet dan memastikan bahwa mereka juga diajari cara berperilaku dan berkomunikasi melalui media digital.

Mata pelajaran seperti pendidikan kewarganegaraan dan nilai-nilai dalam butir-butir Pancasila dan menjaga kebhinekaan harus melampaui batas-batas tradisional untuk menyentuh juga pada etika, moralitas dan rasa hormat di dunia digital. Latihan dan kegiatan tim adalah cara ampuh lainnya untuk membuat kelompok bekerja bersama sebagai satu. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk membuat semua anggota kelas bekerja bersama menuju tujuan bersama, menggunakan semua kekuatan individu mereka dan kemampuan setiap orang untuk menyelesaikan tugas.

  1. Meningkatkan kesadaran ketimbang larangan

Kesadaran memberi pengaruh lebih kuat dalam kepribadian anak, paling tidak karena ia mengubah persepsi sosial. Daripada menciptakan kepanikan atas penggunaan teknologi atau menyebarkan kesalahpahaman, kesadaran membuat anak berkembang menjadi lebih kuat dan beradab, menjadikan mereka memahami permasalahan sehingga suasana positif akan muncul.

Banyak sekolah memilih untuk melarang penggunaan teknologi, yang sebenarnya dapat menjadi bumerang bagi siswa dan membuat mereka menggunakan ponsel secara diam-diam. Kaum muda mengidentifikasi dengan teknologi dan menyesuaikannya agar sesuai dengan kehidupan sehari-hari mereka. Itulah mengapa penting untuk menunjukkan kepada siswa bagaimana mereka dapat menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama, seperti untuk berbagi pengetahuan atau untuk saling mendukung satu sama lain. Selanjutnya, dengan membawa teknologi ke dalam kelas, guru dapat fokus pada penggunaan etisnya.

  1. Solidaritas kolektif

Sebuah laporan dari inisiatif Safe2Tell menemukan bahwa, dalam 81% kasus intimidasi di sekolah, beberapa kelompok siswa mengetahui tentang serangan, tetapi mereka memutuskan untuk tidak melaporkannya. Dalam sebagian besar kasus ini, tutup mulutnya siswa terutama disebabkan oleh ketakutan untuk menjadi korban berikutnya atau menghadapi hukuman oleh orang dewasa. Dalam kasus ini, anak-anak perlu tahu bahwa masalahnya bukan teknologi, melainkan orang yang menggunakannya untuk tujuan yang salah. Mempromosikan dialog yang mengalir bebas dan menyediakan ruang untuk mendengarkan juga memberikan kontribusi bagi anak-anak yang tahu siapa yang harus dituju jika dihadapkan dengan perilaku kasar.

Di sisi lain, penyalahgunaan online sebenarnya dapat dilaporkan melalui platform itu sendiri. Semua jejaring sosial memiliki opsi untuk melaporkan posting, komentar, dan bahkan profil yang membahayakan atau melecehkan seseorang. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan konten kasar di jejaring sosial, karena setelah serangkaian laporan diterima, pos atau profil dihapus. Laporan-laporan ini sepenuhnya anonim, jadi tidak perlu takut akan pembalasan.

  1. Dialog

Siswa perlu tahu siapa mereka dapat jangkau atau hubungi sebelum masalah muncul. Dan di are ini, kepercayaan adalah kunci untuk membuka dialog. Sebuah survei baru-baru ini menemukan bahwa 25% anak-anak dan remaja percaya bahwa orang tua mereka kurang tahu tentang teknologi. Persepsi ini membuat mereka merasa bahwa masalah online mereka diremehkan dan tidak dipahami. Apa yang terjadi di internet dipandang oleh anak-anak sebagai hal yang sangat serius. Identitas digital mereka pada dasarnya sama dengan identitas dunia nyata mereka. Untuk alasan itu, jika seorang siswa mendekati seorang guru atau orang dewasa yang bertanggung jawab lainnya dengan masalah online, guru perlu menganggapnya sama seriusnya dengan masalah dunia nyata yang serupa dan mencari sumber daya untuk mengatasinya.

Penting untuk diingat bahwa sementara anak tahu banyak tentang bagaimana teknologi digunakan dan cara kerjanya, orang dewasa memiliki lebih banyak pengalaman dalam kehidupan nyata. Dengan pemikiran ini, mengeksplorasi topik seperti risiko teknologi, keamanan di internet dan perilaku online yang tepat sangat penting untuk mendorong dialog. Dan sangat penting untuk memecah kesunyian seputar perundungan dan penindasan dunia maya, dengan berbicara tentang contoh-contoh cyberabuse dan solusinya. Dalam melakukan hal itu, guru harus jelas dan empatik dan berkomunikasi secara terbuka dengan siswa mereka.

Jika kita melihat komunikasi digital sebagai bagian dari dunia kecil masing-masing orang, maka apa yang disampaikan oleh Eleanor Roosevelt dapat menjadi perhatian kita bersama tentang apa arti dari hak asasi manusia, sebagai berikut:

“Dimana, diatas segalanya, hak asasi manusia itu dimulai? Ia dimulai dari sebuah tempat sederhana, dekat rumah kita. Tempat dimana pria, wanita, serta anak-anak mendapat perlakuan sama, kesempatan sama, kehormatan sama, tanpa diskriminasi.”

 

Sumber berita:

https://www.welivesecurity.com/2019/08/23/cyberbullying-what-schools-teachers-can-do/