Stuxnet, jawaban dari diplomasi buntu?

Menutup Bulan September, dunia komputer memberitakan bahwa Iran mampu mengidentifikasi serangan dari lebih 30.000 IP di negaranya ke fasilitas nuklir. Terlepas dari target akhir adalah fasilitas nuklir atau bukan, namun secara teknis sistem yg diserang adalah SCADA dari Siemens. Serangan ini dimulai dari ancaman komputer yg bernama Stuxnet.

Pada tulisan saya sebelumnya (https://www.bacapikirshare.org/index.php/fenomena-sinta-jojo-dan-win32stuxnet/) Stuxnet ‘hanya’ berada pada posisi 5, namun perkembangannya sangatlah cepat. Kesimpulan untuk bulan Agustus, Stuxnet menempati posisi 2, berada tepat di bawah kendaraan yang ditumpangi untuk menyebarkan diri (LNK/Autostart).

1. LNK/Autostart.A
2. Win32/Stuxnet.A
3. Win32/Packed.Themida
4. Win32/Conficker.AA
5. Win32/Conficker.X
6. Win32/Conficker.Gen
7. LNK/Exploit.CVE-2010-2568

Lalu pada bulan september ini, kembali menempati posisi 2, berada di bawah Win32/Packed.Themida.
1. Win32/Packed.Themida
2. Win32/Stuxnet.A
3. LNK/Autostart.A
4. Win32/Conficker.AA
5. LNK/Exploit.CVE-2010-2568

Kepopuleran ini disebabkan dengan kemampuan menyebarnya yang menggunakan bugs yang terdapat pada Microsoft, yaitu:
1. MS10-046, dikenal sebagai LNK Exploit. http://support.microsoft.com/kb/2286198
2. MS10-061, dikebal sebagai Print Spooler Remote Code Execution, http://www.microsoft.com/technet/security/bulletin/ms10-061.mspx
3. MS08-067, dikenal sebagai Server service Vulnerability http://www.microsoft.com/technet/security/bulletin/ms08-067.mspx

Sangat disarankan untuk pengguna Sistem Operasi Microsoft melakukan update secara berkala, atau dengan cara manual melalui link tersebut di atas.

Di dunia antivirus, Stuxnet dikenal sebagai targeted malware, karena mempunyai target akhir yang jelas dalam usaha penyerangannya, yaitu SCADA System serta PLCs (Programming Logic Controllers) yang menggunakan Siemens SIMATIC WinCC atau STEP 7 SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) systems. Melalui site ini http://support.automation.siemens.com/WW/llisapi.dll?func=cslib.csinfo&lang=en&objid=43876783&caller=view Siemens, memberikan solusi untuk penggunanya agar lebih aman.

Indonesia (17.4%) menempati posisi 2 dalam serangan Stuxnet di dunia, dibawah Iran (52.2%) yang mengklain serangan ini ditujukan ke fasilitas nuklir mereka. Hingga saat ini belum ada kabar dari kalangan industri local pengguna SCADA mengenai dampak serangan Stuxnet. Namun, dampak bagi pengguna komputer dengan sistem operasi Windows sudah banyak dilaporkan, selain menjadi lambat, hardisk bisa tiba-tiba penuh sesak.

Jadi, apakah Stuxnet merupakan cyberwar yang terarah dan jawaban atas diplomasi politik yang buntu terhadap Iran? tidak ada yang tahu secara pasti.

Yang pasti, kejadian ini telah menunjukkan bahwa belum ada yang sempurna dan setiap vendor sudah melakukan patching menutup kelemahan produk.

Pengguna ESET dapat bernapas lega, Stuxnet sudah dikenali sejak awal kemunculannya berikut cara penyebarannya.